Ahok Tamat Ahoker Ngamuk

Rakyat sudah tak sabar Ahok pakai rompi oranye? Wajar kalau tidak sabar, karena model manusia seperti Ahok mustahil pakai rompi jingga (orange itu bahasa asing, kafir) kecuali bila dipolitisir. Mereka yang tinggal tunggu waktu pakai rompi itu, tidak akan membuat kita tidak sabar. Justru kita santai dan sabar, karena tinggal tunggu waktu.
SIAPA NEGARAWAN?
Nota keberatan Ahok ditolak? Persidangan berlanjut? Mantap! Semua sesuai skenario. Ahok yang sejak awal segala proses persidangannya ‘istimewa’ dan ‘super cepat’, akhirnya berlanjut.
Ahok harusnya bisa pra-peradilan karena proses perkaranya seperti dipaksakan, namun demi ketentraman hidup bernegara, Ahok memilih untuk menunggu pengadilan. Kalau Ahok mengambil hak-nya untuk melakukan pra-peradilan, kondisi masyarakat akan gonjang-ganjing digoyang sesapian bayaran. Negarawan sejati tidak akan mengorbankan ketentraman negaranya.
Seorang negarawan tidak akan berteriak ‘lebaran kuda’ ketika situasi politik memanas. Dari balik layar memprovokasi setelah itu sudah siap pidato susulan keprihatinan bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Berawal dari Pilkada, Indonesia dijadikan taruhan. Sebenarnya ini bukan hanya tentang Pilkada, ini pertaruhan terakhir dari Pepo and Friends untuk menyelamatkan keluarga-prihatin-bahagianya. Pilkada hanya ditumpangi, utus putra mahkota hanya taktik pewayangan politis, ujungnya ya menyelamatkan citra keluarga.
Citra keluarga penting? Sangat penting bagi Pepo. Pencitraan lebih penting dari apapun, toh nyatanya itu efektif. Hanya dengan modal pencitraan (dan keprihatinan) ditambah slogan “Katakan tidak pada(hal) korupsi,” dia mampu berkuasa hingga 10 tahun. Itu efektif dan ilmunya siap diturunkan ke putra mahkota. Apapun yang dapat menurunkan pencitraan, harus dihindari, termasuk Debat Politik! Calon magang dilarang Pepo debat, karena yang penting menang.
Masih magang ikut debat bisa digoreng oleh yang berpengalaman. Pencitraan turun. Uang Pepo untuk modal men-citra bisa sia-sia, apalagi masih harus menabung untuk berbagi dengan para penjual agama lupa neraka.
Jadi ingat dengan Jose Maurinho saat masih di Inter Milan. Sepakbola monoton bertahan, diledek banyak orang, yang penting menang. Dengan cara begitu, Inter Milan akhirnya bisa merasakan juara tertinggi se-Eropa.
Tim Pepo mirip-mirip lah. Tidak apa monoton, diejek tidak ikut debat, bergabung dengan siapapun asal bukan kubu Ahok, yang penting ujungnya menang Pilkada lalu menang Pilpres. Siapa yang tidak mau punya wayang tertinggi di suatu negara. Yang dikritik wayangnya, yang untung nanti dalangnya (dan keluarga). Untuk mencegah pemberontakan akibat wayang yang stress kelak di kemudian hari, maka perekrutan wayang harus dari kalangan keluarga nan bahagia. Hadirlah sang putra mahkota.
Siapa negarawan? Ahok atau Keluarga-Prihatin-Ria? Untuk memimpin suatu wilayah negara atau bahkan satu negara, kita perlu membuka hati selurus-lurusnya memilih mereka yang berjiwa negarawan. Mengapa? Karena seorang negarawan akan berjuang pontang-panting demi kebaikan rakyatnya, bila perlu korbankan dirinya, demi kebaikan rakyatnya. Apakah orang yang ikut memanaskan suasana, kolaborasi dengan para sesapian, memainkan agama dalam kepolitikan, memiliki ciri-ciri negarawan?
AHOK TAMAT AHOKER NGAMUK
Ahok tamat? Saya berharap demikian.
Saya berharap pengadilan Ahok segera ‘tamat’ sehingga dia bisa konsentrasi urus Jakarta lagi. Doa “Ahok Tamat” dari para sesapian ini harus diamini. Dengan tamatnya sinetron politis ini, dia bisa sibuk telanjangi lagi para koruptor. Saya pribadi akan semangat pagi saat bayar pajak kalau model Ahok jadi pimpinan.
Setelah tamat, kita bisa lihat Ahok pencak silat hantam pelipis kaum sumbu pendek. Otak kera harus dihantam. Kita ini kerja setengah mati, bayar pajak mencoba jujur, masak di atas yang kerjanya ‘setengah hati’ bisa seenaknya ambil anggaran.
Kembali ke urusan otak kera. Jelas bahwa program KJP di jaman Ahok kurang mengena. Sesapian sepertinya tidak menggunakan KJP, jadi otak kurang terprogram maksimal, itu kalau sesapian memang orang Jakarta.
Ahoker Ngamuk? Saya juga berharap ini terjadi.
Doa ini juga harus diamini. Ahoker mungkin memang sudah waktunya ‘ngamuk’. Beda Ahoker ngamuk dengan sesapian ngamuk ada pada instalasi syaraf otaknya. Kalau sesapian ngamuk harus dibayar dan sewa toa corong buatan kafir, kalau Ahoker dengan mengawasi, mengawal, mendidik, membuka fakta, dan apapun yang sifatnya mencerdaskan hati nurani bangsa.
#ahoktamatahokerngamuk
Terima kasih untuk hastag di atas. Itu doa terindah yang dapat diberikan untuk Ahok. Teruslah menjadi trending topic, karena itu akan menguatkan mereka yang berhati lurus.
Sebagai penutup, ijinkan saya menulis hastag ini 4x seperti para sesapian-alay-kemaren-sore hari ini.
#ahoktamatahokerngamuk
#ahoktamatahokerngamuk
#ahoktamatahokerngamuk
#ahoktamatahokerngamuk
Terima kasih atas ijinnya. Aaahhh…lega rasanya…
sumber ; seword

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri dengan ribuan karangan bunga, Hater Ahok bikin fitnah ini. Kini Terbongkar, Simak Faktanya!

Buku Berlumur Darah Berisi Sandi Misterius Ditemukan di Lokasi Bom Bunuh Diri Kampung Melayu, Ternyata...

Pelajaran Menjadi Pribadi Berbudaya Punya Nilai Seni dan Adiluhung